Mengapa Orangtua Menyiksa atau Mengabaikan Anak?

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perilaku | Tag:, , |

Mengapa sampai ada orang tua yang suka menyiksa atau yang mengabaikan anaknya? Menurut beberapa ahli, tidak semua orang tua punya kecenderungan untuk menyiksa atau pun mengabaikan anaknya. Orang tua yang melakukan hal demikian pun sebenarnya punya alasan atau latar belakang sampai-sampai mereka bertindak demikian terhadap anaknya. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi perilaku orang tua yang suka menyiksa atau pun mengabaikan anaknya. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:

1. Pemilihan Pasangan untuk Menikah

Setiap orang pasti berusaha mencari pasangan yang terbaik dan sesuai dengan konsep ideal mereka. Hanya saja, pemilihan pasangan menurut para ahli ilmu jiwa juga sangat diwarnai oleh pola asuh dan hubungan antara individu dengan orang tua atau setidaknya salah satu dari orang tua mereka. Secara tidak disadari, setiap orang mengharapkan calon pasangannya memiliki kualitas yang menyerupai salah satu dari orang tua karena figur orang tua tersebut sudah menjadi tolak ukur atau standar yang ingin ditemukannya dalam diri pasangannya tersebut. Hal ini bisa berakibat positif atau pun negatif, tergantung dari orang tua yang menjadi modelnya, dan bagaimana pola interaksi yang terjadi di masa lalu antara individu dengan orang tuanya.

2. Karakter orangtua yang negatif

Jika orang tua (misalnya sang ayah) yang menjadi modelnya memiliki temperamen yang tinggi, keras, kaku,mudah marah, tidak stabil emosinya; dan interaksi yang terjalin lebih bersifat dingin, kaku, menjaga jarak, tidak memancarkan kasih sayang yang hangat, bahkan sering menghadiahkan hukuman dari pada pujian, tidak heran jika di kemudian hari sang anak tumbuh menjadi individu yang memiliki sifat atau karakter serupa dengan ayahnya yang suka menghukum tersebut. Atau jika tidak, ia tumbuh menjadi orang yang sifat-sifatnya menyerupai figur ibu yang posisinya lebih pasif atau menjadi korban kekerasan / temperamen ayahnya. Secara kejiwaan memang hal ini tidak sehat, karena di balik kecenderungan untuk bersikap pasif maupun agresif, ada kecenderungan sikap ketergantungan yang tidak sehat.

Sikap dan pola asuh orang tua yang demikian tidak memberikan kesempatan bagi anaknya untuk berkembang menjadi diri sendiri. Orang tua demikian suka memaksakan kehendak mereka dan menanamkan image yang menjatuhkan harga diri sang anak sehingga anakanak tersebut tidak punya pilihan lain kecuali patuh dan taat pada orang tua yang mereka anggap paling benar, paling memahami dan melindungi mereka. Orang tua demikian juga cenderung tidak mengarahkan kemandirian anak, namun justru menciptakan kondisi hingga anak jadi terus menerus “lengket” dan tergantung pada orang tua, bahkan sampai si tumbuh menjadi dewasa sekali pun. Akibatnya, individu yang usianya semakin dewasa, ternyata secara mental masih anakimmature, alias kekanak-kanakan. Hal ini pasti sedikit banyak mempengaruhi pemilihan profil calon pasangan yang akan dijadikan suami atau istri.

Menurut penelitian para ahli, pada umumnya individu yang masih kekanak-kanakan, akan mendapatkan pasangan yang juga belum dewasa secara kejiwaan. Jika salah satu orang tua pemabuk, maka tidak heran jika salah satu dari anaknya juga punya kecenderungan pemabuk, atau mendapatkan suami yang pemabuk pula. Atau seseorang yang punya orang tua super otoriter atau bahkan acuh tak acuh, cenderung menemukan pasangan entah yang juga punya karakter yang sama dengan orang tua yang otoriter ataukah mendapatkan pasangan yang sangat pasif dan tergantung. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan perkawinan tersebut jika kedua orang yang membentuk keluarga tidak berhasil keluar dari masalah identitasnya masing-masing. Tidak heran, jika pola asuh dan interaksi yang dialaminya di masa lalu, akan terulang kembali di keluarga barunya. Anakanak mereka pada akhirnya mengalami masalah yang sama seperti halnya orang tuanya dahulu.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Polansky dan kawan-kawannya pada tahun 1981 terhadap karakteristik orangtua yang mengabaikan anaknya, menemukan bukti bahwa orang tua yang mengabaikan anaknya digambarkan mempunyai karakter kekanak-kanakan, memiliki harga diri yang rendah dan sulit merencanakan hal-hal penting dalam hidupnya seperti perkawinan, mempunyai anak, dsb. Mereka juga dilaporkan tidak terlalu menunjukkan kecemasan, kemarahan atau pun depresi dibandingkan dengan orang tua yang suka menyiksa anak secara fisik. Tidak hanya itu, penelitian yang dilakukan oleh Tomison (1996) yang dimuat dalam National Research Council, 1933 mengungkapkan, bahwa lemahnya fungsi orang tua juga disebabkan oleh ketidakmampuan kapasitas intelektual dari orang tua tersebut untuk menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesadaran untuk menjaga dan memelihara anaknya dengan layak.


3. Gangguan kepribadian dan masalah kejiwaan yang dialami orang tua

Gangguan jiwa atau pun fisik yang kronis memang menjadi salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang menjadi orang tua yang efektif. Sebab, problem yang muncul kemudian adalah kesulitan mengendalikan emosi dan perilaku agresif sebagai dampak gangguan tersebut.

Masalah kejiwaan yang menghinggapi salah satu dari orang tua sudah tentu membawa dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa anakanaknya. Tidak hanya itu, masalah kejiwaan orang tua pasti mempengaruhi pola interaksi dan komunikasi yang terjalin di dalam keluarga. Dalam tinjauan teori sistem, jika salah seorang anggota keluarga mengalami masalah kejiwaan, otomatis akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan menyebabkan perubahan-perubahan di berbagai segi kehidupan keluarga. Masalahnya, orang tua yang mengalami gangguan kejiwaan akan sulit membedakan antara masalah dirinya dengan masalah anakanaknya, kebutuhan dirinya dengan kebutuhan anakanaknya. Belum lagi anakanak dibebani oleh perasaan bersalah yang ditimbulkan oleh masalah yang dialami orang tua. Anakanak juga dibebani tanggung jawab untuk menjadi “pengasuh” dan dituntut untuk memenuhi kebutuhan orang tua yang sedang bermasalah tersebut, entah kebutuhan emosional maupun jasmani. Akibatnya sang anak dipaksa untuk menjalankan peranan selayaknya orang dewasa.

Seringkali orang tua yang bermasalah malah menyalahkan anakanak karena dianggap sebagai sumber masalah. Jadi, anakanak sering menjadi sasaran pelampiasan dorongan agresif orang tua yang seringkali bertubi-tubi dan tidak terkendali. Anakanak tersebut menerima perlakuan kasar dan kejam dan dijadikan sasaran mudah bagi pelampiasan dorongan agresif orang tua yang bermasalah tersebut. Gangguan jiwa yang dialami orang tua apalagi yang bersifat agresif seringkali mendatangkan suasana teror dalam kehidupan sang anak, terutama jika kekejaman atau pun kekerasan tersebut terjadi secara random dan tidak dapat diprediksikan kemunculannya. Akibatnya tentu saja sulit bagi anak untuk bisa mengembangan rasa percaya diri dan kepercayaan pada orang lain karena mereka sulit menemukan lingkungan yang memberikan rasa aman.(sumber : Jacinta F. RIni, e-psikologi)

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Dampak Penyiksaan/Pengabaian Pada Kehidupan Anak

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perilaku | Tag:, , |

Menurut berbagai lembaga penanganan terhadap anakanak yang mendapat perlakuan negatif dari orang tua, ada beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya dampak atau efek dari penyiksaan atau pengabaian terhadap kehidupan sang anak. Faktor-faktor tersebut adalah:

  • Jenis perlakuan yang dialami oleh sang anak
  • Seberapa parah perlakuan tersebut dialami
  • Sudah berapa lama perlakuan tersebut berlangsung
  • Usia anak dan daya tahan psikologis anak dalam menghadapi tekanan
  • Apakah dalam situasi normal sang anak tetap memperoleh perlakuan atau pengasuhan  yang wajar
  • Apakah ada orang lain atau anggota keluarga lain yang dapat mencintai, mengasihi, memperhatikan dan dapat diandalkan oleh sang anak

Sementara itu penyiksaan dan atau pengabaian yang dialami oleh anak dapat menimbulkan permasalahan di berbagai segi kehidupannya seperti: 

  1. Masalah Relational
  2. Masalah Emosional
  3. Masalah Kognisi
  4. Masalah Perilaku

Masalah Relational

  • Kesulitan menjalin dan membina hubungan atau pun persahabatan

  • Merasa kesepian

  • Kesulitan dalam membentuk hubungan yang harmonis

  • Sulit mempercayai diri sendiri dan orang lain

  • Menjalin hubungan yang tidak sehat, misalnya terlalu tergantung atau terlalu mandiri

  • Sulit membagi perhatian antara mengurus diri sendiri dengan mengurus orang lain

  • Mudah curiga, terlalu berhati-hati terhadap orang lain

  • Perilakunya tidak spontan

  • Kesulitan menyesuaikan diri

  • Lebih suka menyendiri dari pada bermain dengan kawan-kawannya

  • Suka memusuhi orang lain atau dimusuhi

  • Lebih suka menyendiri

  • Merasa takut menjalin hubungan secara fisik dengan orang lain

  • Sulit membuat komitmen

  • Terlalu bertanggung jawab atau justru menghindar dari tanggung jawab

Masalah Emosional

  • Merasa bersalah, malu

  • Menyimpan perasaan dendam

  • Depresi

  • Merasa takut ketularan gangguan mental yang dialami orang tua

  • Merasa takut masalah dirinya ketahuan kawannya yang lain

  • Tidak mampu mengekspresikan kemarahan secara konstruktif atau positif

  • Merasa bingung dengan identitasnya

  • Tidak mampu menghadapi kehidupan dengan segala masalahnya

Masalah Kognisi

  • Punya persepsi yang negatif terhadap kehidupan

  • Timbul pikiran negatif tentang diri sendiri yang diikuti oleh tindakan yang cenderung merugikan diri sendiri

  • Memberikan penilaian yang rendah terhadap kemampuan atau prestasi diri sendiri

  • Sulit berkonsentrasi dan menurunnya prestasi di sekolah

  • Memiliki citra diri yang negatif

Masalah Perilaku

  • Muncul perilaku berbohong, mencuri, bolos sekolah

  • Perbuatan kriminal atau kenakalan

  • Tidak mengurus diri sendiri dengan baik

  • Menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak wajar, dibuat-buat untuk mencari perhatian

  • Muncul keluhan sulit tidur

  • Muncul perilaku seksual yang tidak wajar

  • Kecanduan obat bius, minuman keras, dsb

  • Muncul perilaku makan yang tidak normal, seperti anorexia atau bulimia

Tidak semua anak akan memperlihatkan tanda-tanda tersebut di atas karena mereka merasa malu, atau takut untuk mengakuinya. Bisa saja mereka diancam oleh pelakunya untuk tidak membicarakan kejadian yang dialami pada orang lain. Jika tidak, maka mereka akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih hebat. Tidak menutup kemungkinan, anakanak tersebut justru mencintai pelakunya. Mereka ingin menghentikan tindakannya tetapi tidak ingin pelakunya ditangkap atau dihukum, atau melakukan suatu tindakan yang membahayakan keutuhan keluarga. (Sumber : Jacinta F. Rini, e-psikologi)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Anak yg Kurang Mendapat Perhatian dan Kasih Sayang

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perilaku | Tag:, , |

Bayi yang dipisahkan dari orang tua akan mengembangkan perasaan tidak aman yang ditampilkan dalam gangguan kepribadian atau kesulitan/hambatan di dalam segi-segi kehidupannya yang menyebabkan munculnya masalah penyesuaian diri di masa yang akan datang. Bagaimana pun juga, pengasuhan yang memadai semasa bayi merupakan kebutuhan yang penting demi tercapainya pertumbuhan fisik dan psikis yang maksimal. Menurut Wenar (1991), ketiadaan pengasuhan yang memadai setelah terbentuknya ikatan cinta kasih di antara anak dengan pengasuh akan menyebabkan perilaku yang menyimpang, karena dampak dari kehilangan tersebut sangatlah dirasakan sebagai suatu penolakan atau pun pengabaian.

(lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Cara Mengatasi Penyiksaan & Pengabaian Anak

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perilaku | Tag:, , , |

Jakarta, 08 Maret 2001.

Masalah penyiksaan atau pengabaian terhadap anak haruslah dipandang dan ditangani secara komprehensif. Penyelesaian atau pun penanganan masalah ini bukan hanya tergantung pada psikolog, konselor, atau dokter/terapis, tetapi juga membutuhkan keterlibatan dari orang tua si anak yang bermasalah. Jika tidak dimungkinkan adanya keterlibatan orang tua, biasanya anakanak tersebut dipisahkan sementara waktu untuk tinggal dan diasuh oleh orang lain yang dipandang mampu memberikan perhatian yang memadai.

Memang, di negara-negara berkembang seperti Indonesia kasus-kasus ini belum banyak mendapat perhatian masyarakat sehingga tidak banyak terungkap dan ditangani secara serius. Jika diperhatikan secara seksama, hampir setiap hari ada kasus penganiayaan atau pun pengabaian yang dialami oleh anakanak Indonesia tanpa disadari tidak hanya oleh pelakunya saja, namun bahkan oleh korbannya. Buktinya, di persimpangan jalan, di bawah jembatan, di pinggiran toko, di pasar, banyak ditemukan anakanak itu harus bekerja keras untuk membantu orang tua dengan konsekuensi kehilangan masa bermain dan bersekolah. Mereka juga tidak jarang menjadi korban penganiayaan orang-orang yang tidak suka atau merasa terganggu akan kehadiran mereka yang kusam dan kotor. Banyak pula dari mereka yang kabur dari rumah karena tidak tahan oleh perlakuan keras orang tuanya sehingga memutuskan untuk menjadi anak jalanan.

Oleh karena tidak ada yang mempedulikan nasib dan keadaan anakanak itu, maka dari ke hari kasusnya semakin bertambah dan dampak kerugian baik material maupun psikologis yang ditimbulkan semakin meluas. Padahal, kerugian psikologis yang diderita oleh anakanak tersebut membahayakan perkembangan jiwa dan dalam jangka panjang sama saja dengan membiarkan terjadinya kehancuran mentalitas dan intelektualitas generasi penerus bangsa.

Jadi, jika di antara kita ada kasus penyiksaan atau pun pengabaian, maka tindakan yang dapat diambil adalah memberikan informasi bagaimana menolong diri sendiri, sebagai tindakan pertolongan awal.

Memahami dan menyadari bahwa ia mempunyai orang tua yang mengalami gangguan jiwa dan menyadari pula pengaruh yang bakal dialami sebagai akibatnya

 

  • Menerima dan mengakui perasaan-perasaan yang timbul, seperti marah, sedih, frustasi, rasa bersalah, malu, dsb. Jangan mengabaikan perasaan tersebut seolah tidak pernah muncul.
  • Memberikan pemahaman, bahwa ia bukan menjadi sumber atau penyebab masalah orang tua
  • Mempelajari cara-cara yang dapat membantu menguatkan diri sendiri
  • Pelajari kebutuhan-kebutuhan yang mendasar, dan berusahalah untuk mengaturnya
  • Pelajari hal-hal yang dapat mendatangkan stress, dan belajar untuk mengatasinya
  • Ubahlah pemikiran dan pemahaman yang negatif tentang diri sendiri dengan hal-hal yang lebih positif
  • Belajar mengembangkan kemampuan interpersonal, dengan terlebih dahulu mengerti kekurangan yang terdapat di dalam keluarga dalam hal interaksi sosial dengan lingkungan
  • Belajar lebih menghargai dan menikmati hubungan yang tercipta dan mengupayakan kestabilan hubungan tersebut dengan cara-cara yang lebih sehat
  • Mencoba mencari jalan keluar dari berbagai sumber lain seperti psikolog, konselor, dokter, atau lembaga yang mengkhususkan diri untuk menangani problem-problem seperti ini. (Sumber: Jacinta F.Rini, e-psikologi)
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Stop Penyiksaan dan Pengabaian terhadap Anak Sekarang Juga!

Posted on November 25, 2007. Filed under: Perilaku | Tag:, , |

Awas, Hentikan Penyiksaan dan
Pengabaian Terhadap Anak
Sekarang Juga !

Seringkali dalam menghadapi sikap dan perilaku anak yang menyulitkan,banyak orang tua yang lepas kendali sehingga mengatakan atau melakukan sesuatu yang membahayakan anak.

Banyak informasi dari mass media ataupun menurut data penelitian mengungkapkan bahwa penyiksaan secara fisik banyak dialami oleh anakanak sejak masa bayi, dan berlanjut hingga masa kanak-kanak sampai remaja.

(lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...