Tahap Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa Anak

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perkembangan Anak | Tag:, , |

28 Minggu – 1 Tahun

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan ‘ba’, ‘da’, ‘ka’ secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata “tidak” dan mengikuti instruksi sederhana seperti ‘bye-bye’ atau main ‘ciluk-baa’. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti ‘guk’, ‘kuk’, ‘ck’..

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

  1. Jadilah model yang baik untuk anak Anda terutama pada masa ini lah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkannya kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat Anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan (agar anak tahu artinya atau korelasinya antara kata yang Anda ucapkan dengan tindakan kongkritnya), dan jangan lupa, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda juga harus pas.

  2. Anak Anda akan belajar bicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi Anda. Jadi, ini lah waktunya untuk Anda berdua (Anda dengan anak) saling belajar untuk bisa saling memahami keinginan dan maksud berdua. Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk permainan yang menyenangkan agar anak Anda tidak patah semangat untuk terus mencoba mengucapkan secara pas dan jelas. Namun, jika Anda malas memperhatikan “suaranya”, apa yang dimaksudnya, dan tidak mengulangi suaranya, atau bahkan ekspresi wajah Anda membuat dirinya jadi enggan mencoba, maka anak Anda akan merasa bahwa “tidak memungkinkan baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginan karena orang dewasa tidak akan ada yang mengerti dan mau mendengarkan”.

  3. Kadang-kadang, ikutilah gumamannya, namun, Anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan suatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, ciuman, tepuk tangan..dan sampaikan padanya, “betapa pandainya dia”.

  4. Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus menerus meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan misal dengan menunjukkan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau pun ekspresi.

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Tahap Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa Anak

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perkembangan Anak | Tag:, , |

8 – 24 Minggu

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti ‘eh’, ‘ah’, ‘uh’, ‘oh’ dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti ‘m’, ‘p’, ‘b’, ‘j’ dan ‘k’. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan “tunggal” dengan menyuarakan ‘gaga’, ‘ah goo’, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan ‘ma’, ‘ka’, ‘da’ dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anakanak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

  1. Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan.

  2. Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anakanak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang.

  3. Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.

  4. Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan “nyam-nyam” (Sumber: Jacinta F. Rini, e-psikologi)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Tahap Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa Anak

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perkembangan Anak | Tag:, , |

0 – 8 Minggu

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalinya.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

  1. Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.

  2. Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.

  3. Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara Anda. Dengan demikian, Anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara Anda dengan anak Anda sekaligus membesarkan hatinya.

  4. Selama menjalin komunikasi dengan anak Anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian. Jika sedang bicara, tataplah matanya dan jangan malah membelakangi dia.

  5. Jika anak Anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak bereda pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal, satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya (haus, lapar, kedinginan, kepanasan, kebutuhan emosional, kelelahan, kebosanan) dia adalah melalui tangisan. Jadi, jika tangisannya tidak Anda pedulikan, lama-lama dia akan frustasi karena kebutuhannya terabaikan. Yang harusnya Anda lakukan adalah memberinya perlakuan seperti yang dibutuhkannya saat ia menangis. Untuk itu, kita sebagai orang tua haruslah belajar memahami dan mengerti bahasa isyaratnya. Tidak ada salahnya, jika Anda seakan-akan bertanya padanya, seperti: “rupanya ada sesuatu yang kamu inginkan,….coba biar Ibu lihat…” (sumber : Jacinta F. Rini, e-psikologi)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Mengapa Orangtua Menyiksa atau Mengabaikan Anak?

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perilaku | Tag:, , |

Mengapa sampai ada orang tua yang suka menyiksa atau yang mengabaikan anaknya? Menurut beberapa ahli, tidak semua orang tua punya kecenderungan untuk menyiksa atau pun mengabaikan anaknya. Orang tua yang melakukan hal demikian pun sebenarnya punya alasan atau latar belakang sampai-sampai mereka bertindak demikian terhadap anaknya. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi perilaku orang tua yang suka menyiksa atau pun mengabaikan anaknya. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:

1. Pemilihan Pasangan untuk Menikah

Setiap orang pasti berusaha mencari pasangan yang terbaik dan sesuai dengan konsep ideal mereka. Hanya saja, pemilihan pasangan menurut para ahli ilmu jiwa juga sangat diwarnai oleh pola asuh dan hubungan antara individu dengan orang tua atau setidaknya salah satu dari orang tua mereka. Secara tidak disadari, setiap orang mengharapkan calon pasangannya memiliki kualitas yang menyerupai salah satu dari orang tua karena figur orang tua tersebut sudah menjadi tolak ukur atau standar yang ingin ditemukannya dalam diri pasangannya tersebut. Hal ini bisa berakibat positif atau pun negatif, tergantung dari orang tua yang menjadi modelnya, dan bagaimana pola interaksi yang terjadi di masa lalu antara individu dengan orang tuanya.

2. Karakter orangtua yang negatif

Jika orang tua (misalnya sang ayah) yang menjadi modelnya memiliki temperamen yang tinggi, keras, kaku,mudah marah, tidak stabil emosinya; dan interaksi yang terjalin lebih bersifat dingin, kaku, menjaga jarak, tidak memancarkan kasih sayang yang hangat, bahkan sering menghadiahkan hukuman dari pada pujian, tidak heran jika di kemudian hari sang anak tumbuh menjadi individu yang memiliki sifat atau karakter serupa dengan ayahnya yang suka menghukum tersebut. Atau jika tidak, ia tumbuh menjadi orang yang sifat-sifatnya menyerupai figur ibu yang posisinya lebih pasif atau menjadi korban kekerasan / temperamen ayahnya. Secara kejiwaan memang hal ini tidak sehat, karena di balik kecenderungan untuk bersikap pasif maupun agresif, ada kecenderungan sikap ketergantungan yang tidak sehat.

Sikap dan pola asuh orang tua yang demikian tidak memberikan kesempatan bagi anaknya untuk berkembang menjadi diri sendiri. Orang tua demikian suka memaksakan kehendak mereka dan menanamkan image yang menjatuhkan harga diri sang anak sehingga anakanak tersebut tidak punya pilihan lain kecuali patuh dan taat pada orang tua yang mereka anggap paling benar, paling memahami dan melindungi mereka. Orang tua demikian juga cenderung tidak mengarahkan kemandirian anak, namun justru menciptakan kondisi hingga anak jadi terus menerus “lengket” dan tergantung pada orang tua, bahkan sampai si tumbuh menjadi dewasa sekali pun. Akibatnya, individu yang usianya semakin dewasa, ternyata secara mental masih anakimmature, alias kekanak-kanakan. Hal ini pasti sedikit banyak mempengaruhi pemilihan profil calon pasangan yang akan dijadikan suami atau istri.

Menurut penelitian para ahli, pada umumnya individu yang masih kekanak-kanakan, akan mendapatkan pasangan yang juga belum dewasa secara kejiwaan. Jika salah satu orang tua pemabuk, maka tidak heran jika salah satu dari anaknya juga punya kecenderungan pemabuk, atau mendapatkan suami yang pemabuk pula. Atau seseorang yang punya orang tua super otoriter atau bahkan acuh tak acuh, cenderung menemukan pasangan entah yang juga punya karakter yang sama dengan orang tua yang otoriter ataukah mendapatkan pasangan yang sangat pasif dan tergantung. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan perkawinan tersebut jika kedua orang yang membentuk keluarga tidak berhasil keluar dari masalah identitasnya masing-masing. Tidak heran, jika pola asuh dan interaksi yang dialaminya di masa lalu, akan terulang kembali di keluarga barunya. Anakanak mereka pada akhirnya mengalami masalah yang sama seperti halnya orang tuanya dahulu.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Polansky dan kawan-kawannya pada tahun 1981 terhadap karakteristik orangtua yang mengabaikan anaknya, menemukan bukti bahwa orang tua yang mengabaikan anaknya digambarkan mempunyai karakter kekanak-kanakan, memiliki harga diri yang rendah dan sulit merencanakan hal-hal penting dalam hidupnya seperti perkawinan, mempunyai anak, dsb. Mereka juga dilaporkan tidak terlalu menunjukkan kecemasan, kemarahan atau pun depresi dibandingkan dengan orang tua yang suka menyiksa anak secara fisik. Tidak hanya itu, penelitian yang dilakukan oleh Tomison (1996) yang dimuat dalam National Research Council, 1933 mengungkapkan, bahwa lemahnya fungsi orang tua juga disebabkan oleh ketidakmampuan kapasitas intelektual dari orang tua tersebut untuk menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesadaran untuk menjaga dan memelihara anaknya dengan layak.


3. Gangguan kepribadian dan masalah kejiwaan yang dialami orang tua

Gangguan jiwa atau pun fisik yang kronis memang menjadi salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang menjadi orang tua yang efektif. Sebab, problem yang muncul kemudian adalah kesulitan mengendalikan emosi dan perilaku agresif sebagai dampak gangguan tersebut.

Masalah kejiwaan yang menghinggapi salah satu dari orang tua sudah tentu membawa dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa anakanaknya. Tidak hanya itu, masalah kejiwaan orang tua pasti mempengaruhi pola interaksi dan komunikasi yang terjalin di dalam keluarga. Dalam tinjauan teori sistem, jika salah seorang anggota keluarga mengalami masalah kejiwaan, otomatis akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan menyebabkan perubahan-perubahan di berbagai segi kehidupan keluarga. Masalahnya, orang tua yang mengalami gangguan kejiwaan akan sulit membedakan antara masalah dirinya dengan masalah anakanaknya, kebutuhan dirinya dengan kebutuhan anakanaknya. Belum lagi anakanak dibebani oleh perasaan bersalah yang ditimbulkan oleh masalah yang dialami orang tua. Anakanak juga dibebani tanggung jawab untuk menjadi “pengasuh” dan dituntut untuk memenuhi kebutuhan orang tua yang sedang bermasalah tersebut, entah kebutuhan emosional maupun jasmani. Akibatnya sang anak dipaksa untuk menjalankan peranan selayaknya orang dewasa.

Seringkali orang tua yang bermasalah malah menyalahkan anakanak karena dianggap sebagai sumber masalah. Jadi, anakanak sering menjadi sasaran pelampiasan dorongan agresif orang tua yang seringkali bertubi-tubi dan tidak terkendali. Anakanak tersebut menerima perlakuan kasar dan kejam dan dijadikan sasaran mudah bagi pelampiasan dorongan agresif orang tua yang bermasalah tersebut. Gangguan jiwa yang dialami orang tua apalagi yang bersifat agresif seringkali mendatangkan suasana teror dalam kehidupan sang anak, terutama jika kekejaman atau pun kekerasan tersebut terjadi secara random dan tidak dapat diprediksikan kemunculannya. Akibatnya tentu saja sulit bagi anak untuk bisa mengembangan rasa percaya diri dan kepercayaan pada orang lain karena mereka sulit menemukan lingkungan yang memberikan rasa aman.(sumber : Jacinta F. RIni, e-psikologi)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

STIMULASI INDRA PERABA DAN PENGECAP PENTING UNTUK KECERDASAN

Posted on November 26, 2007. Filed under: Tidak terkategori | Tag:, , |

Ingin punya bayi hebat? Salah satu kuncinya pasti stimulasi! Terdengar klise mungkin, tapi memang begitulah prosesnya. Stimulasi diperlukan untuk perkembangan otak yang akan menentukan kecerdasan. Stimulasi indra peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan otak, selain stimulasi indra pendengaran dan penglihatan.

Stimulasi indra peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan otak, selain stimulasi indra pendengaran dan penglihatan.

Ingin punya bayi hebat? Salah satu kuncinya pasti stimulasi! Terdengar klise mungkin, tapi memang begitulah prosesnya.
Stimulasi diperlukan untuk perkembangan otak yang akan
menentukan kecerdasan. Apalagi bila dikaitkan dengan the golden age atau masa pesat perkembangan otak di usia 0-3 tahun (ada juga yang mengatakan 0-6 tahun).

Setelah itu, perkembangan otak manusia pun akan melambat. Jadi manfaatkan masa ini dengan sebaik-baiknya. Cepatnya perkembangan otak dalam periode ini
ditandai dengan pertambahan berat otak dari 400 gr di waktu lahir menjadi hampir 3 kali lipatnya setelah akhir tahun ketiga.

Sekadar untuk diketahui, pada masa awal usianya, fungsi kedua belahan otak bayi masih sama. Hal ini bisa terlihat dari cara bayi meraih benda dengan menggunakan kedua tangannya. Setelah otak berkembang, secara individual fungsi belahan otak kanan dan kiri menjadi berbeda. Perkembangan ini menyebabkan anak cenderung memakai tangan tertentu (umumnya kanan) untuk melakukan sesuatu.

Contoh lain akan pentingnya stimulasi terlihat pada penelitian tentang huruf ”L” yang diadakan di Jepang. Dari riset yang dilakukan ditemukan, bayi-bayi di negeri Sakura hingga usia 6 bulan masih peka terhadap konsonan ”L”. Namun, saat menginjak usia 1 tahunan kepekaan itu hilang karena konsonan L dalam bahasa Jepang tidak diperlukan. ”Itu salah satu bukti kalau otak tidak distimulasi, sinaps-sinapsnya (simpai) akan hilang begitu saja.”

IBARAT PESAWAT TELEPON

Saraf-saraf dalam organ otak diibaratkan sebagai kumpulan pesawat telepon yang koneksinya belum terhubung satu sama lain. Agar koneksi antara pesawat telepon di dalam otak ”saling nyambung” diperlukan stimulasi.

Tujuan stimulasi adalah mengembangkan hubungan (network) antara satu saraf dengan saraf lain. ”Saat anak sudah sekolah, ia akan lebih cepat menangkap pelajaran yang diberikan karena ‘pesawat-pesawat telepon’ miliknya sudah terkoneksi sebelum itu. Sebaliknya, bila pesawat-pesawat telepon itu tidak distimulasi maka sinaps-sinapsnya akan hilang.

Bahkan beberapa ahli percaya, kalau tidak ada rangsangan, jaringan organ otak jadi mengecil akibat menurunnya jaringan fungsi otak.

Masalahnya, begitu banyak hal yang perlu dipelajari si bayi kecil lewat kelima indranya; ada indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba hingga pengecap. Orang tua harus rajin menstimulasi semua indra bayi secara seimbang agar tumbuh kembangnya menjadi optimal.

Nah, kali ini yang akan dibahas adalah stimulasi indra peraba dan indra pengecap.

STIMULASI INDRA PERABA

Sebenarnya, secara tidak sadar, orang tua sudah melakukan beberapa stimulasi indra sentuhan dari hari ke hari. Hanya saja, mungkin upayanya kurang maksimal. Agar lebih maksimal berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

Pijat bayi

Pijatan dapat memberi efek relaks pada bayi. Penelitian membuktikan bayi prematur yang sering dipijat akan tumbuh lebih baik, lebih cepat, lebih tenang serta lebih jarang menangis ketimbang bayi-bayi prematur yang tidak dipijat.

”Jadi terbukti sentuhan orang tua mempengaruhi perkembangan bayi, bukan?”.
Akan lebih baik bila mengikuti berbagai kursus pijat bayi yang banyak diselenggarakan untuk mengetahui teknik pijatan yang tepat. Jika bayi dipijat tanpa mengenakan pakaian, pilih ruangan yang cukup hangat.

Perhatikan ranjang

Kebanyakan, waktu bayi akan dihabiskan di atas ranjang. Nah, untuk menstimulasi indra peraba, lapisi ranjang dengan alas tempat tidur yang lembut dan hangat sehingga ia merasa nyaman di dalamnya.

Manfaatkan berbagai bahan

Bayi perlu mengenal konsep kasar-halus atau keras-lunak. Untuk itu kita bisa mengenalkannya kepada berbagai tekstur bahan seperti sutera, satin, velvet, kulit, handuk dan sebagainya. Bisa juga memanfaatkan kegiatan sehari-hari. Dengan mandi, misalnya, bayi jadi tahu sifat sabun yang licin.

Berjalan tanpa alas

Bila sudah agak besar, bayi bisa diajak berjalan-jalan tanpa alas kaki sehingga ia dapat merasakan perbedaan kala menyentuh lantai, karpet, atau rumput. Nah, apa yang kita sampaikan kepada sensori peraba bayi akan terekam di dalam otaknya dan membantu dia menghubungkan jaringan sel-sel saraf yang ada di dalamnya. Akhirnya, pada sekitar usia 2 tahun ia mulai
bisa menyebutkan kalau batu itu keras atau sutera itu lembut.

STIMULASI INDRA PENGECAP

Stimulasi indra pengecap pun sudah akrab dengan aktivitas sehari-hari si kecil, berikut beberapa di antaranya:

Menyusu ASI

Menyusu ASI merupakan salah satu cara merangsang indra pengecap bayi. Beberapa pakar mengatakan, bayi yang menyusu ASI akan lebih jarang mengisap jari ketimbang yang menyusu dari botol. Waktu menyusu yang ideal sekitar 30 sampai 40 menit. Di atas 20 menit sebenarnya susu ibu sudah kosong, namun bayi tetap mengisap puting ibunya demi memenuhi kebutuhan mengisapnya.

Biarkan mengisap jari

Untuk menstimulasi indra pengecapnya biarkan bayi mengisap jari. Seperti diketahui, setiap bayi pasti akan mengisap jari. Terlebih pada bayi baru lahir hingga usia 3 bulan. Sampai usia 7 bulan pun, kebiasaan mengisap jari pada bayi masih dianggap wajar. Setelah usia itu tentu kebiasaan ini mesti dihentikan.

Memberikan PASI

Selepas usia 6 bulan, mulailah bayi diperkenalkan dengan berbagai macam rasa makanan agar saat besar nanti indra pengecapnya terbiasa dengan aneka jenis makanan. Ia pun akan tumbuh menjadi anak yang tidak pilih-pilih makanan.

Mainan gigitan

Bisa diberikan saat ia mulai memasukkan segala sesuatu
ke dalam mulutnya, yakni sekitar usia 6 bulan. Tentu saja perhatikan kebersihannya.

Ajak si kecil ngobrol saat kita memberinya stimulasi. Dengan begitu, bahasanya pun akan ikut terangsang. Dengan berkomunikasi, orang tua juga akan menjalin kedekatan dengan perkembangananak. Namun, kelekatan tetap kurang terjalin bila sambil berbicara, pikiran orangtua berada entah di mana. Jadi, ajak bayi berbicara dengan tatapan mata. Saat memandikan, kita bisa ngobrol tentang air yang begitu dingin. ”Ih airnya dingin, ya..”
Dengan begitu, anak merasa bahwa kita berusaha berhubungan dengannya. Walau mungkin respons bayi belum terlihat, hanya menatap saja, misalnya, tapi itu sebenarnya menunjukkan kelekatan sudah terbangun. (sumber : balita cerdas)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Kecerdasan Anak Bayi Anda – Kapan Mulai Terbentuknya?

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perkembangan Anak | Tag:, , |

Tahukah Anda, bayi berusia 3 bulan otaknya telah membentuk koneksi yang jumlahnya kurang lebih 2 kali yang dimiliki oleh orang dewasa? Berapa jumlahnya? Yaaah…sekitar 1000 triliun koneksi lah… Wow!

OK, sebelum saya melanjutkan, mungkin Anda ingin tahu dulu apa sih sebenarnya yang dinamakan koneksi otak itu? Secara sederhana, koneksi otak adalah hubungan antara sel-sel otak dengan sel-sel lainnya dalam tubuh manusia.

Nah, berkaitan dengan bayi, sebuah koneksi akan semakin kuat terbentuk dalam otak bayi apabila kejadian atau pengalaman yang memicu terbentuknya koneksi tersebut semakin sering terjadi.

Coba Anda baca sekali lagi pernyataan di atas!

Sudah? OK, terus apa artinya? Agar lebih mudah dimengerti, mari kita lihat beberapa contoh berikut…

Seorang bayi yang sering diajak berbicara oleh orang-orang di sekelilingnya, nantinya akan memiliki kemampuan berbahasa lebih baik dibandingkan dengan orang yang ketika masih bayi jarang diajak bicara. Bisa dibayangkan, apa jadinya kalau seorang bayi tidak pernah diajak berbicara sama sekali!

Seorang bayi yang sering berinteraksi dengan banyak orang di lingkungannya, insya Allah akan mudah bersosialisasi nantinya ketika dia dewasa. Begitu pula, kasih sayang dan kehangatan yang Anda berikan kepada bayi Anda akan membentuk kepribadian yang positif ketika dia beranjak dewasa.

Ketika Anda mengajak bayi Anda berbicara, sesungguhnya Anda sedang memicu terbentuknya sebuah koneksi dalam otaknya. Semakin sering aktivitas ini Anda lakukan, semakin kuat koneksi yang tercipta. Selanjutnya, bayi Anda akan memiliki kepandaian berbahasa kelak ketika ia dewasa.

Ratusan kejadian atau pengalaman yang dialami oleh bayi Anda akan memicu terbentuknya ratusan koneksi dalam otaknya. Ingat, sekali lagi, semakin sering si bayi mengalami suatu kejadian, semakin kuat koneksi tersebut terbentuk dalam otaknya.

Inilah penjelasan ilmiahnya mengapa bayi dan anakanak kecil selalu diibaratkan sebagai kertas putih…terserah si orang tua ingin menulis apa di atas kertas itu. Keburukankah atau kebaikan?

Makanya, hati-hati dalam berinteraksi dengan bayi Anda dan jangan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini untuk membentuk kepribadian dan kecerdasan bayi Anda sejak dini, bahkan semenjak masih dalam kandungan!

Tahukah Anda, dengan tersenyum kepada bayi Anda ketika dia menangis, berarti Anda telah memicu terbentuknya suatu koneksi otak yang akan berdampak positif pada emosi si bayi? (Sumber : Farid Aziz)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Bagaimana hubungan KASIH SAYANG dengan ARSITEKTUR OTAK?

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perkembangan Anak | Tag:, , |

Artikel saya tentang ”ONLI” mendapatkan tanggapan yang sangat antusias sekaligus pertanyaan: ”Apakah ada bukti dari pernyataan bahwa ‘Kasih Sayang ternyata tidak hanya mempengaruhi perkembangan emosi anak, tetapi juga memberikan pengaruh besar terhadap arsitektur otak’ seperti yang tertulis di artikel tersebut?”.

Seperti yang telah kita pahami bersama, perkembangan kecerdasan anak ditentukan oleh 2 HAL, yaitu JUMLAH SEL OTAK dan yang lebih lagi adalah JUMLAH DAN KEKUATAN INTERKONEKSI ANTAR SEL OTAK.

ONLI sangat mempengaruhi 2 hal diatas!

Bagaimana hubungan KASIH SAYANG dengan ARSITEKTUR OTAK?

Di bawah ini saya kutip tulisan di buku ”Brain Child”-nya Tony Buzan yang memberikan bukti hubungan tersebut.


Kisah tentang Dua Bayi Kera

Ketika Jeepers dilahirkan di sebuah kebun binatang, ibunya memberikan dia perhatian sebagaimana normalnya seekor ibu kera, membawanya kemanapun dalam gendongannya, merawatnya, ”meninjunya sekali-sekali” ketika dia menjadi pengganggu, berceloteh padanya juga dengannya, dan menyusuinya kapanpun dia menginginkan makanan. Mereka hidup dalam sebuah sangkar yang merupakan sebuah komunitas kera, dan Jeepers dengan cepat berlari-larian gembira bersama bayi-bayi kera lainnya.

Creepers tidak seberuntung itu. Ibunya mati sesaat setelah dia lahir, dan Creepers ditinggal dalam sebuah kandang yang di dalamnya hanya ada beberapa kera laki-laki yang lebih dewasa. Pemiliknya memberinya makan pada waktu-waktu tertentu, tapi tidak ada kera lain yang menimangnya, berceloteh padanya, merawatnya, dan peduli padanya. Dia duduk sendirian sepanjang hari, biasanya diam membisu, tampak sedih.

Kurang lebih setahun setelah kelahirannya, sebuah infeksi menyerang kebun binatang dan Jeepers dan Creepers mati dengan menyedihkan. Seorang psikolog yang menaruh minat pada perilaku kera melakukan otopsi otak kedua kera tersebut. Dia mendapati dengan takjub bahwa:

Jeepers memiliki sistem saraf mental yang berkembang baik, mirip sekali dengan sebatang pohon ek dengan jutaan cabang yang berjalinan dengan rumitnya.

Sistem saraf mental Creepers, sebaliknya, tampak seperti pohon kering. Benar-benar tidak berkembang!

Kasih sayang membuat sistem otak dan tubuh membuka diri, berfungsi dengan baik, menerima, melakukan eksplorasi, dan berkembang.

Jelas sekali, bukti diatas menunjukkan betapa KASIH SAYANG sangat mempengaruhi perkembangan jaringan otak, yang artinya mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak.

JADI…
jika anda merasa belum sepenuhnya mengungkapkan rasa kasih sayang anda terhadap sang buah hati di rumah,
JANGAN TUNDA LAGI!

(Sumber : Taufan Surana, Balita Cerdas)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Dampak Penyiksaan/Pengabaian Pada Kehidupan Anak

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perilaku | Tag:, , |

Menurut berbagai lembaga penanganan terhadap anakanak yang mendapat perlakuan negatif dari orang tua, ada beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya dampak atau efek dari penyiksaan atau pengabaian terhadap kehidupan sang anak. Faktor-faktor tersebut adalah:

  • Jenis perlakuan yang dialami oleh sang anak
  • Seberapa parah perlakuan tersebut dialami
  • Sudah berapa lama perlakuan tersebut berlangsung
  • Usia anak dan daya tahan psikologis anak dalam menghadapi tekanan
  • Apakah dalam situasi normal sang anak tetap memperoleh perlakuan atau pengasuhan  yang wajar
  • Apakah ada orang lain atau anggota keluarga lain yang dapat mencintai, mengasihi, memperhatikan dan dapat diandalkan oleh sang anak

Sementara itu penyiksaan dan atau pengabaian yang dialami oleh anak dapat menimbulkan permasalahan di berbagai segi kehidupannya seperti: 

  1. Masalah Relational
  2. Masalah Emosional
  3. Masalah Kognisi
  4. Masalah Perilaku

Masalah Relational

  • Kesulitan menjalin dan membina hubungan atau pun persahabatan

  • Merasa kesepian

  • Kesulitan dalam membentuk hubungan yang harmonis

  • Sulit mempercayai diri sendiri dan orang lain

  • Menjalin hubungan yang tidak sehat, misalnya terlalu tergantung atau terlalu mandiri

  • Sulit membagi perhatian antara mengurus diri sendiri dengan mengurus orang lain

  • Mudah curiga, terlalu berhati-hati terhadap orang lain

  • Perilakunya tidak spontan

  • Kesulitan menyesuaikan diri

  • Lebih suka menyendiri dari pada bermain dengan kawan-kawannya

  • Suka memusuhi orang lain atau dimusuhi

  • Lebih suka menyendiri

  • Merasa takut menjalin hubungan secara fisik dengan orang lain

  • Sulit membuat komitmen

  • Terlalu bertanggung jawab atau justru menghindar dari tanggung jawab

Masalah Emosional

  • Merasa bersalah, malu

  • Menyimpan perasaan dendam

  • Depresi

  • Merasa takut ketularan gangguan mental yang dialami orang tua

  • Merasa takut masalah dirinya ketahuan kawannya yang lain

  • Tidak mampu mengekspresikan kemarahan secara konstruktif atau positif

  • Merasa bingung dengan identitasnya

  • Tidak mampu menghadapi kehidupan dengan segala masalahnya

Masalah Kognisi

  • Punya persepsi yang negatif terhadap kehidupan

  • Timbul pikiran negatif tentang diri sendiri yang diikuti oleh tindakan yang cenderung merugikan diri sendiri

  • Memberikan penilaian yang rendah terhadap kemampuan atau prestasi diri sendiri

  • Sulit berkonsentrasi dan menurunnya prestasi di sekolah

  • Memiliki citra diri yang negatif

Masalah Perilaku

  • Muncul perilaku berbohong, mencuri, bolos sekolah

  • Perbuatan kriminal atau kenakalan

  • Tidak mengurus diri sendiri dengan baik

  • Menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak wajar, dibuat-buat untuk mencari perhatian

  • Muncul keluhan sulit tidur

  • Muncul perilaku seksual yang tidak wajar

  • Kecanduan obat bius, minuman keras, dsb

  • Muncul perilaku makan yang tidak normal, seperti anorexia atau bulimia

Tidak semua anak akan memperlihatkan tanda-tanda tersebut di atas karena mereka merasa malu, atau takut untuk mengakuinya. Bisa saja mereka diancam oleh pelakunya untuk tidak membicarakan kejadian yang dialami pada orang lain. Jika tidak, maka mereka akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih hebat. Tidak menutup kemungkinan, anakanak tersebut justru mencintai pelakunya. Mereka ingin menghentikan tindakannya tetapi tidak ingin pelakunya ditangkap atau dihukum, atau melakukan suatu tindakan yang membahayakan keutuhan keluarga. (Sumber : Jacinta F. Rini, e-psikologi)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Anak yg Kurang Mendapat Perhatian dan Kasih Sayang

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perilaku | Tag:, , |

Bayi yang dipisahkan dari orang tua akan mengembangkan perasaan tidak aman yang ditampilkan dalam gangguan kepribadian atau kesulitan/hambatan di dalam segi-segi kehidupannya yang menyebabkan munculnya masalah penyesuaian diri di masa yang akan datang. Bagaimana pun juga, pengasuhan yang memadai semasa bayi merupakan kebutuhan yang penting demi tercapainya pertumbuhan fisik dan psikis yang maksimal. Menurut Wenar (1991), ketiadaan pengasuhan yang memadai setelah terbentuknya ikatan cinta kasih di antara anak dengan pengasuh akan menyebabkan perilaku yang menyimpang, karena dampak dari kehilangan tersebut sangatlah dirasakan sebagai suatu penolakan atau pun pengabaian.

(lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

RASA INGIN TAHU ANAK BESAR = ANAK CERDAS. BENARKAH?

Posted on November 26, 2007. Filed under: Perkembangan Anak | Tag:, , |

Anak yg selalu bertanya atau rasa ingin
tahunya besar adalah anak yg cerdas.”
Benarkah pernyataan itu?
Apakah memang demikian kenyataannya?
…Ada satu hal lagi yg perlu menjadi
perhatian kita dalam menilai apakah anak tersebut
BENAR-BENAR mempunyai ciri-ciri anak cerdas.

ika anda sudah banyak membaca buku ataupun
menerima banyak informasi tentang perkembangan
anak, pasti anda pernah mendapatkan pernyataan berikut:

Anak yg selalu bertanya atau rasa ingin
tahunya besar adalah anak yg cerdas.”

Benarkah pernyataan itu?
Apakah memang demikian kenyataannya?

(Semoga anda tidak menjadi ragu dengan 2 pertanyaan di atas.)

Memang BENAR bahwa salah satu ciri anak cerdas
adalah anak yg rasa ingin tahunya besar, selalu
bertanya tentang banyak hal.

TETAPI, ada satu hal lagi yg perlu menjadi
perhatian kita dalam menilai apakah anak tersebut
BENAR-BENAR mempunyai ciri-ciri anak cerdas.

Apa itu?

Setelah anak mengajukan pertanyaan, ada 1 tahapan
lanjutan yg bisa dijadikan acuan apakah dia
benar-benar ingin tahu, yaitu:

”APAKAH ANAK BENAR-BENAR MEMPERHATIKAN JAWABANNYA.”

Anak yg cerdas akan bertanya banyak hal karena
memang dia ingin tahu jawabannya. Biasanya, jika
anak tersebut bertanya, dia akan ‘mengejar’
jawaban kita dengan pertanyaan lanjutan, sampai
kita orangtua menjadi kewalahan dalam menjawabnya.

Inilah salah satu ciri-ciri anak cerdas yang sebenarnya!

Kadang-kadang kita melihat anak yang selalu bertanya, tetapi sebelum dijawab anak tersebut sudah bertanya lagi hal yang lain lagi secara terus menerus. Hal ini menunjukkan bahwa anak tersebut tidak benar-benar ingin tahu terhadap apa yang ditanyakannya.

Menghadapi anak seperti itu, kita perlu mengarahkan sedikit demi sedikit, sehingga anak menjadi bisa memfokuskan dirinya terhadap apa yang ingin diketahuinya.

Kemudian, sarana TERBAIK untuk memuaskan
keingin-tahuan anak adalah dengan menyediakan
buku, dan mengajarkan anak MEMBACA sejak dini.

Aktivitas membaca mempunyai pengaruh terbesar
dalam kehidupan berpikir seorang
anak
, yang pada
akhirnya akan berpengaruh juga terhadap tingkat
kecerdasan anak.

Untuk menstimulasi hal tersebut, kita perlu
memberikan kegiatan lanjutan setelah anak selesai membaca dalam suasana yang menyenangkan.
Misalnya, kita bisa membuat quiz tentang isi dari bacaan tersebut, dlsb. Hal ini perlu untuk melatih anak belajar menguasai isi bacaan tersebut.

Pemahaman terhadap isi bacaan merupakan tahap lanjutan yang sangat penting untuk diajarkan setelah anak mulai lancar membaca.

Yang lebih penting lagi:

JANGAN memaksa anak untuk membaca!

Beri kebebasan kepada anak untuk memilih buku
yang ingin dibacanya.

INGAT, yang penting BUKAN APA yang dibaca oleh
anak, TETAPI BAGAIMANA anak membacanya. Tentu saja, selama buku-buku tersebut sesuai untuk anakanak.

Jangan samapai, misalnya, kita memaksa anak membaca buku tentang binatang, padahal anak sedang ingin membaca buku tentang angkasa luar.

Adil Fathi Abdullah dalam bukunya mengatakan:

”Andai kita berhasil membuat anak gemar dan
menikmati aktivitas membaca serta menjadikannya
sebagai sarana untuk meningkatkan daya pikirnya,
berarti kita telah memberikan kebaikan yang
tidak ternilai dengan harta dunia.”

Anda setuju?

Saya sangat SANGAT sependapat dengan pernyataan diatas. (Sumber:Taufan Surana, Balita Cerdas)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

« Entri Sebelumnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...